Renungan November 2018




ORANG MISKIN


Hukum Taurat melindungi orang miskin dengan ketetapan-ketetapan (Kel. 23:11). Tuhan sering menampilkan diri-Nya sebagai pembela orang miskin. Yesus pun banyak memberikan perhatian kepada orang miskin. Para murid di gereja mula-mula juga memberikan perhatian khusus pada orang miskin. Cara hidup mereka adalah tindakan meniadakan kemiskinan dengan kepemilikan bersama. Mereka berpendapat bahwa mengabaikan orang miskin dalam jemaat berarti melalaikan firman Allah. Paulus dalam perjalanan misinya berkali-kali meminta jemaat-jemaatnya mendukung pengumpulan dana bagi mereka yang miskin, khususnya jemaat di Yerusalem. Jelas bahwa Alkitab mengajarkan keramahtamahan dan perhatian kepada orang miskin.

Kristus berkata, “Orang miskin selalu ada padamu.” Ia ada dalam gereja dan masyarakat kita. Apakah permasalahan mereka adalah permasalahan kita juga? Kenyataannya tidak selalu demikian. Kadang-kadang kita justru terjebak memberikan perhatian kepada mereka yang kaya dengan harapan memperoleh keuntungan pribadi, seperti kehormatan dan gengsi. Hal yang kontras pula, banyak gereja megah di antara orang-orang miskin. Tak mengherankan jika ada seruan agar gereja berhenti membangun gedung-gedung yang megah di tengah-tengah lingkungan yang miskin.

Membicarakan firman Allah tentang orang miskin belumlah cukup. Ia harus nyata dalam tindakan kita. Dengan demikian firman Allah akan semakin tersebar dan jumlah orang percaya akan semakin bertambah.