Renungan Bulan Juni 2018



Baca: 1 Samuel 19:1-7

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. (Amsal 13:20)



Ada kalajengking hendak menyeberangi sungai, tetapi tidak tahu caranya. Muncullah kura-kura, mengajak kalajengking naik ke atas tempurungnya. Kalajengking ragu. “Bagaimana kalau kamu menenggelamkan aku?” Kura-kura menjawab, “Kamu ‘kan ada di atasku, kalau aku menenggelamkan kamu, aku juga akan tenggelam.” Kalajengking pun ikut. Belum lama di air, tiba-tiba kalajengking menyengat kura-kura.
Kura-kura, yang kesakitan dan menyesal bertanya, “Mengapa kau menyengatku?” Kalajengking menjawab bahwa ia tidak bermaksud jahat, tetapi ia secara naluriah selalu menyengat makhluk lain.

Kisah persahabatan yang sangat indah dan terkenal dalam Alkitab adalah kisah Daud dan Yonatan. Saul, ayah Yonatan berkali-kali ingin membunuh Daud. Karena Yonatan mengasihi Daud, ia berusaha mencegahnya. Yonatan, misalnya, berusaha membujuk ayahnya dengan mengingatkan akan jasa-jasa Daud. Karena bujukan itu, Saul sempat bersumpah, “Demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh,” (ay. 6) sehingga Daud bisa kembali bekerja.

Tuhan menginginkan kita menjadi terang dan berkat bagi orang lain. Namun, kita juga perlu memiliki teman-teman yang mendukung kita secara mental. Orang-orang yang memiliki pemikiran positif dan mendorong kita untuk sama-sama bertumbuh. Bukan berarti kita menutup diri, tetapi kita harus mengerti batasan: bahwa kita tidak bisa terus bergaul dengan orang yang berkarakter buruk atau orang yang berniat jahat pada kita.
Untuk itu, penting bagi kita memiliki teman-teman yang saling membangun.