Quizabend

Temen2 semuanya..

Mau iklanin acara lagi niehhh!!!

Hari selasa besok, 30.01.2007 di KHG bakal seperti biasa ngadain Gemeindeabend yang biasanya diawali dengan Andacht n dilanjutin dengan makan2 kecil trus maen2.

Yang gak biasa kali ini adalah:
1. Andachtnya dalam bentuk Taize.
2. Dalam maen2 kali ini, KMKI yang bakalan bikin maen2nya!

KMKI bakal bikin Quizabend. Humm, lebih tepatnya sih permainan kata2. Jadi, bakal tebak2an kata2 lewat menggambar, gerak tubuh, dll. Yang lebih serunya lagi, kata2nya bukan dalam bahasa Indonesia seperti biasa, melainkan dalam Bahasa Jerman. So.. dah kebayang kan serunya??? Dijamin setelah maen vocab bahasa jerman makin bakal banyak bertambah!!!

Jadi jangan lewatkan acara kali ini! kalian semua dateng yakk!!!

Susunan acara:
Pk. 19.15: Andacht- Taize
Pk. 20.15: Quizabend
Tanggal maennya: Selasa, 30 Januari 2007
Tempat maennya: KHG Karlsruhe EG.

Ayo, pada ikutan yakk!!!
Salam KMKI,
PK 06/07


Anak-anak yang sepi

Anak-anak selalu memiliki kerinduannya sendiri. Mengapakah kita selalu mengkhawatirkannya? Tidak layakkah anak-anak untuk bermain, mencari dan menemukan apa yang disenanginya? Mengapakah kita harus mencampakkan semua mimpi-mimpi indah mereka? Apakah kebenaran selalu hanya milik kita, orang-orang yang merasa bahwa kedewasaan adalah kebenaran mutlak?

"Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" jawab Yesus kepada ayah ibunya saat mereka mencari dan menemukan Dia. Seringkali ketakutan kita pada masa depan yang tak teraba dan harapan kita sendiri yang tak teraih yang membuat kita ingin agar anak-anak kita menjadi jauh lebih berhasil daripada kita sendiri. Tetapi apakah keberhasilan untuk kita sama dengan keberhasilan untuk mereka di masa depan?

Anak-anak selalu memiliki kerinduannya sendiri. Kita bisa mengarahkan mereka tetapi jangan membentuk mereka sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mereka toh bukan tanah liat yang dapat kita ubah bentuknya sesuai dengan apa yang kita idekan. Hidup mereka bukanlah suatu bentuk mekanik yang dapat kita jalankan seperti kita menjalankan robot lewat remote-control. Anak-anak, mimpi mereka, keinginan dan harapan mereka, kerinduan-kerinduan mereka pasti bukanlah suatu kesia-siaan belaka. Sebab mereka diciptakan sama seperti kita diciptakan. Mereka adalah cermin kerinduan Tuhan sendiri untuk membuat manusia secara bebas mampu menentukan dirinya sendiri.

Anak-anak memang menyimpan kerinduannya sendiri. Dan karena itu, dalam menyikapi sikap kita yang sering memaksakan ide kita, mereka menjadi anak-anak yang kesepian. Merasa tak dipahami. Merasa tak dipedulikan perasaannya. Sehingga terkadang mereka menjadi pemberontak yang aktip. Atau menjadi penurut yang pasip. Maka akhirnya mereka sering gagal menjadi diri sendiri. Larut dalam situasi emosional, melawan atau pasrah, mereka gagal menyikapi hidup. Lalu kita pun mulai mengeluh. Salah siapa?

“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.?(Mat 18:10). Ingatlah, bahwa anak-anak selalu memiliki kerinduan mereka sendiri. Dan tidak setiap kerinduan itu sama dengan kerinduan kita. Kita dapat mengarahkan tetapi jangan memaksa mereka. Kita dapat meminta tetapi tidak untuk mengharuskan. Berapa banyakkah penderitaan terjadi karena sikap kita yang keras dalam memaksa anak-anak kita untuk mewujudkan mimpi kita sendiri?

Maka marilah kita menyadari untuk tidak menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sepi. Anak-anak itu pun memiliki hak untuk mewujudkan kerinduan mereka. Untuk menyatakan keberadaan diri mereka. Sebab di dalam merekalah terletak masa depan. Kita tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal tentang mereka. Sebab kita sendiri pun tidak abadi. Suatu waktu kelak, kita harus membiarkan mereka untuk terbang melayang dengan saya-sayap mereka sendiri. Yang jauh lebih berdaya daripada sayap kita sendiri. Jauh lebih berdaya.

Sie liturgie


Doa Bapa Kami

Jangan mengatakan BAPA
kalau sehari-hari tidak berlaku sebagai anak Tuhan

Jangan mengatakan KAMI
kalau engkau hidup tersendiri dalam egoismemu

Jangan mengatakan YANG ADA DI SURGA
kalau hanya memikirkan hal-hal duniawi dan kesenangan sendiri

Jangan mengatakan DIMULIAKANLAH NAMAMU
kalau tidak menghormatiNya

Jangan mengatakan JADILAH KEHENDAKMU
kalau tidak mau menerimanya bila ternyata adalah kenyataan berat dan pahit

Jangan mengatakan BERILAH KAMI REJEKI PADA HARI INI
kalau tidak prihatin akan mereka yang lapar , orang buta huruf , kikir
untuk memberi dana sosial, sumbangan, angkuh terhadap si miskin dan
tanpa harapan untuk besok

Jangan mengatakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI
kalau masih menyimpan kebencian terhadap saudaramu, sesamamu

Jangan mengatakan JANGAN BIARKAN KAMI JATUH DLM PENCOBAAN
kalau masih bermaksud berbuat dosa terhadap sesama atau apapun juga

Jangan mengatakan BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT
kalau tidak berani mengambil posisi melawan kejahatan

Jangan mengatakan AMIN
kalau tidak menganggap serius setiap kata doamu BAPA KAMI

Mat. 28:19,20


Biografi

Nelson Mandela - Der Lange Weg zur Freiheit
(Spiegel - Edition Band 7)

Außer dem Leben, einer starken Konstitution und einer dauerhaften Verbindung zum Thembu-Könighaus gam mir mein Vater nur einen Namen mit, Rolihlahla. Wörtlich bedeutet Rolihlahla: "Am Ast des Baumes Ziehen", doch der umgangssprachliche Sinn lautet ziemlich genau: Unruhstifter. Ich glaube nicht, daß mein Vater irgendwie ahnte, was für eine Zukunft mich erwartete, doch in späteren Jahren machten freunde und Verwandte oft meinen Geburtsnamen verantwortlich für die vielen Stürme, die ich sowohl verursacht als auch überstanden habe. (Nelson Mandela, Der Lange Weg zur Freiheit)


Berminat? Silahkan hubungi Ardo


Blood Brother - Elias Chacour
(The Unforgettable Story of Palestinian Christian Working for Peace in Israel)

As a child, Elias Chacour lived in a small Palestinian village in Galilee, the townspeole were proud of their ancient Christian heritage and lived at peace with Jewish neighbors, But in 1948 and '49 their idyllic lifestyle was swept away as tens of thousands of Palestinians were killed and nearly one million were forced into refugee camps.
An exile in his native land, Elias began a years-long struggle with his love for the Jewish people and the world's misunderstanding of his own people, the Palestinians. How was he to respond? He found his answer in the simple, haunting words of the Man of Galilee: "Blessed are the Peacemakers".
In Blood Brothers Chacour blends his riveting life story with historical research to reveal a little-known side of the Arab-Israeli conflict and the birth of modern Israel. He touches on controversial question such as:

  • What behind-the-scenes politics touched off the turmoil in the Middle East?
  • What does Bible prophecy really have to say?
  • Can bitter enemies ever be reconciled?

In a world of tension and terror, this book offers hope and insight that can help each of us learn to live at peace.



Berminat? Silahkan hubungi Ardo