Salmon Fillet with Fried Butter Vegetables and Potatoes


Bahan:
Porsi: 1 Orang

  • 125 gr Salmon (1 Potong dari 1 kotak beku)
  • 3 buah Kentang (kupas dan rebus 15 menit)
  • 50 gr Keju parut
  • 100 gr Buttergemüse
  • olive oil
  • Garam dan lada secukupnya
  • Kaldu bubuk


Cara Membuat:
  1. Panaskan oven 150 grad celcius. Potong kentang setebal 1 cm. Panaskan sedikit minyak oliv diatas wajan, goreng kentang sampe kecoklatan. Tambahkan kaldu bubuk sesuai selera. Angkat dan letakan diatas piring saji.
  2. Potong ikan menjadi 2 jika terlalu besar. Panaskan sedikit minyak diatas wajan lalu goreng sebentar bagian atas dan bawah ikan sampe berubah warna. Jangan lupa bumbui dengan garam dan lada. Angkat dan letakan diatas kentang. (bagian tengah ikan akan matang didalam ofen)
  3. Taburkan keju diatas ikan dan kentang lalu masukkan kedalam ofen selama 10 menit sampai keju mencair.
  4. Selama itu tumis sayur diatas wajan dengan sedikit minyak. Bumbui dan rasakan.
  5. Keluarkan ikan dari ofen, letakan sayur disamping ikan dan hiasi dengan jeruk lemon dan tomat kecil
  6. Hidangan cepat dan mudah sudah siap disajikan. selamat mencoba



oleh: Studio 250



Kasih atau Peraturan

Markus 3:1-6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.
Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Sejak dulu sampai sekarang, bahkan juga di masa-masa mendatang, kiranya tetaplah benar pernyataan bijaksana berikut ini: peraturan boleh dikorbankan, bila hal itu perlu demi kepentingan manusia. Sayang, dalam kenyataan hidup sehari-hari, selalu ada saja beberapa orang yang membalik pernyataan bijaksana itu menjadi: manusia boleh dikorbankan, bila hal itu perlu demi tegaknya peraturan.
Sikap legalistis itulah yang tampak jelas dalam reaksi orang-orang Farisi terhadap tindakan Yesus, ketika la menyembuhkan orang pada hari Sabat. Mereka tidak lagi punya belas kasih dan kepekaan pada penderitaan orang yang lumpuh tangannya itu. Mereka hanya punya kepekaan pada peraturan-peraturan dan pelanggaran atasnya.
Pada zaman ini, dan di tengah masyarakat kita, ada juga beberapa orang yang punya sikap legalistis seperti itu. Beberapa polisi lalu lintas, misalnya, tidak terlalu suka menolong para pengguna jalan, melainkan lebih suka menjadi pengawas dan pengintai, yang merasa senang bila bisa menangkap pengguna jalan yang melanggar peraturan lalu lintas. Apalagi, dengan cara itu mereka Juga mendapat keuntungan, yakni: uang tilang.

Tuhan Yesus mempunyai sikap yang sebaliknya. Bagi-Nya, menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya itu jauh lebih penting daripada menegakkan peraturan tentang tindak-tanduk di hari Sabat. Tuhan tahu, peraturan dibuat demi kepentingan manusia, bukan sebaliknya. Maka, bila sungguh perlu, peraturan boleh dikorbankan, demi kepentingan manusia yang harus segera ditolong.

Sie Liturgie.


Perlakuan Masyarakat

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu.

Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik: "Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?"
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia."

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut: "Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku, 'Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?' Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, di luar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, 'Kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti.' Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya. Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah ke depan, dan melempar bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali ke arah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tersebut bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir. Sebaliknya, pitcher tersebut melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim.

Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, 'Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!'. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua orang berteriak, 'Lari ke base dua, lari ke base dua!' Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga.

Shay berlari menuju base ketiga. Semua yang hadir berteriak, 'Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay!' Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, 'Shay, larilah ke home, lari ke home!' Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya. Hari itu," kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan diwajahnya, "para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan ke dalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen di mana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya."

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung di antara mereka.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami 'kejadian alami dalam hidup'. Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pertanyaan bagi kita: Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

"We can do no great things - only small things with great love."
Mother Teresa (1910-1997)

Sie Liturgi


Temu Bulanan III

Halo semua...

Dah saatnya lagi bwat kita untuk kumpul2 bulanan.. hehehe... Bwat bulan ini kita akan ngadain Spielabend. Nanti kita ngumpul2 sambil maen Siedler, Ligretto, UNO, kartu remi sampe capsa sampe puas. Jadi, bwat Spielabend kali ini temen2 diharapkan membawa mainannya sendiri dari rumah. Sapa punya permainan seru, harap dibawa. Semakin banyak permainan, acara bakal jadi lebih seru. Oiya, biar mengganjal perut yang bisa-bisa ajah laper, temen2 juga diharapkan membawa snack dari rumah. Nanti semua makanan yg terkumpul bakal dishare bwat semuanya.

Buat yang tertarik dateng, acara diadain:
Hari / Tanggal: Sabtu, 9 September 2006
Waktu : Pk. 16.00- selese
Acara : Renungan singkat trus maen2 sampe puas..
Tempat : KHG

Ayo yakk.. semuanya pada dateng.. biar rame acaranya.. Ditunggu lho kedatengannya!

PK 06/07