Mini Susis Brut


Porsi: 25 Buah

Bahan:
  • 1 Kantong Cevapcici (TK, beli di lidl ato Aldi)
  • 1 Packung frische Blätterteig (Di Aldi lebih bagus, karena bentuknya kotak)
  • 1 buah Telur


Cara Membuat:
  1. Panaskan ofen 200 derajat Celcius.
  2. Potong menjadi dua 13 buah cevapcici.
  3. Gulung daging cevapcici dengan blätterteig sampe semua daging tertutup.
  4. Letakan diatas blech yang telah dialasi backpapier. (lebih baik sambungan blätterteignya dibagian bawah, agar tidak pecah ketika mengembang) Olesi bagian atas dengan kocokan telur.
  5. Panggang sampai bewarna kecoklatan, kurang lebih 20 menit.
  6. Nikmati selagi hangat dengan saus tomat atau sambal botol
  7. Sisa cevapcici enak juga digoreng lalu ditumis sebentar dengan saustomat dan paprika dan dimakan dengan nasi putih. Hidangan mudah, cepat dan lezat dapat anda buat sendiri tanpa perlu mengeluarkan banyak uang.



oleh: Studio 250



Love in Action is Harsh

Seorang teman pastor berkisah tentang seorang penulis Rusia yang bernama Fyodor Dostoyevsky. Banyak Tulisan Dostoyevsky berpijak pada tema-tema spiritual, di antaranya adalah tema cinta kasih yang dikembangkannya secara unik. Pernah ia menulis kisah tentang seorang ibu muda yang telah kehilangan suaminya. Tentu saja sang janda diliputi rasa sedih dan cemas yang teramat dalam. Sang ibu mendekati seorang pastor dan mengatakan bahwa ia sungguh amat sulit untuk menjadi yakin akan keberadaan Allah serta akan kehidupan setelah kematian. Sang pastor dengan pelahan-lahan menjelaskan bahwa sungguh amatlah sulit bagi kita untuk mengukuhkan atau mementahkan gagasan tentang keberadaan Allah. Demikian pula kita sulit untuk mengatakan bahwa hidup manusia ini bersifat fana atau kekal. Namun demikian kita harus berjuang tanpa letih untuk mencintai sesama kita secara aktif. Hanya bila kita mampu berkembang dalam cinta kita akan sesama, maka keyakinan kita akan keberadaan Allah akan semakin menjadi jelas bagi kita. Hanya dengan cara ini kita akan menjadi sadar bahwa hidup manusia amatlah bersifat fana dan terbatas.

Sang janda lalu menceritakan bahwa ia amat bermimpi untuk memberikan seluruh harta miliknya kepada kaum miskin dan selanjutnya menjadi seorang suster untuk membaktikan dirinya seutuhnya bagi kaum miskin. Namun ia tetap saja merasa kwatir apa yang akan dikatakan orang lain tentang dirinya kelak. Dari kisah sang janda ini, Dostoyevsky lalu memberikan kata-katanya yang terkenal: "Love in action is a harsh and dreadful thing compared with love in dreams." Cinta yang dihidupkan adalah cinta yang menakutkan, cinta yang berat dan menuntut pengorbanan bila dibandingkan dengan cinta yang ada dalam mimpi. Cinta yang dihidupkan secara nyata tak henti-hentinya menuntut pemberian diri, menuntut pengosongan diri.

Seorang ibu yang telah menikah dan memiliki dua anak datang mencari seorang imam dan menceritakan bahwa suaminya saat ini begitu kejam terhadapnya. Suaminya tak mencintainya, dan betapa ia merindukan seseorang yang sungguh mencintai dirinya. Dan ternyata kini pria impiannya, pria yang dapat mencintainya muncul dalam hidupnya, dan karena itu ia ingin segera menceraikan suaminya saat ini untuk selanjutnya menikah dengan pria idaman tersebut. Sungguhkah ia akan menemukan cinta yang indah itu? Mungkinkah hal itu hanya merupakan cinta yang berada dalam mimpi yang belum terwujud? Cinta dalam mimpi selalu indah, namun ia akan menjadi sesuatu yang mungkin menakutkan, sesuatu yang harus dipikul sebagai salib bila ia menjadi kenyataan. Tidak heran kalau ada yang mendefenisikan cinta sebagai berikut; "Love is practice, preparation, and perspiration." Cinta adalah suatu latihan yang tak pernah selesai, yang membutuhkan persiapan yang matang, dan menuntut cucuran keringat, menuntut suatu usaha keras agar cinta tersebut bertahan hingga kekal.

Dalam InjilMatius 22:34-40 kita mendengar Yesus memberikan perintah yang paling utama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat 22: 37-39). Ada yang mengungkapkan kebenaran tuntutan hukum utama ini dalam sebuah puisi yang indah: "Aku mencari jiwaku, namun kudapati kehampaan. Aku mencari Allahku, namun Ia berkelit. Aku mencari sesamaku, dan kutemukan ketiga-tiganya." Dalam sesama aku menemukan diriku. Dan dalam sesamaku pula kutemukan kehadiran diri Allah.

Sudah sejak awal penciptaan Tuhan melihat bahwa tidaklah baik bagi manusia untuk hidup sendirian seumpama sebuah pulau yang sepi sendirian di laut lepas. "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kej 2: 18). Manusia membutuhkan orang lain. Manusia adalah makhluk yang komunal, yang membutuhkan suatu komunitas. Dan konsep Ubuntu dari Afrika adalah benar ketika mengatakan; "I am a person because of other people." Aku menjadi seorang manusia karena adanya manusia yang lain. Keberadaan orang lain membantu aku untuk belajar hidup secara manusiawi, belajar hidup sebagai manusia yang beradab, belajar berinter-aktif dengan orang lain, belajar menerima kehadiran orang lain. Keberadaan orang lain memampukan aku menjadi makhluk pencinta, seorang yang mampu mencintai dan dicintai, membantu aku menjadi seorang yang mampu memaafkan dan mengayomi.

Karena itu ketika Yesus meminta agar kita mencintai orang lain, hal ini sesungguhnya bukanlah suatu perintah yang membebankan, tetapi lebih merupakan suatu ungkapan terima kasih kita kepada orang lain. Yohanes dalam suratnya mengatakan bahwa kita mencintai Allah karena Allah telah terlebih dahulu mencintai kita. Hal yang sama juga terjadi ketika kita berhadapan dengan orang lain. Kita mencintai orang lain karena orang lain telah lebih dahulu mencintai kita. Kita mencintai orang lain karena orang lain telah lebih dahulu membantu kita menjadi seorang yang manusiawi. Kita mencintai orang lain karena kita adalah makhluk yang tahu berterima kasih, makhluk yang tahu bersyukur, makhluk yang beradab.

Benar bahwa cinta yang ada dalam mimpi adalah cinta yang indah, namun berat untuk dihidupkan. Gagasan tentang cinta, pembicaraan tentang cinta terhadap Allah dan sesama adalah hal yang mudah. Namun kita semua setuju bahwa hal ini berat untuk dilaksanakan. Cinta yang dihidupkan adalah cinta yang membutuhkan curahan keringat, cinta yang membutuhkan usaha. Karena itu, mari kita menutupi diskusi kita saat ini tentang cinta, dan saat ini juga, detik ini juga marilah kita mulai menghidupkan cinta tersebut in action, menjadikan cinta sebagai warna dasar hidup harian kita. Berkat Tuhan menyertai kita selalu.
(diambil dari pondok renungan)

Sie Liturgie´


Pagi di Pantai

Sekumpulan camar melayang di angkasa. Sekumpulan camar melayang di bawah langit yang mendung. Sekumpulan camar dengan formasi segitiga, mengepak-ngepakkan sayapnya sambil lalu lalang, naik turun kesana kemari. Dan mendung tebal yang menutupi cahaya pagi hari seakan menjadi tempat berteduh bagi mereka yang hidup. Hujan tidak turun. Dan angin bertiup semilir.

Aku berdiri di tepi pantai sambil menyaksikan buih-buih putih dari gelombang yang memecah di dinding-dinding karang. Aku berdiri untuk mendengarkan deru suara gelombang yang bergelora sambil menikmati kesegaran udara pagi. Beberapa sosok tubuh nampak berlari menyisiri jalan. Beberapa sosok tubuh, dengan nafas terengah-engah sedang melaksanakan jogging untuk kesehatan tubuh. Aku. Camar. Para pelari pagi. Suatu tali yang lembut dari nafas hidup sedang menghubungkan kami semua.

Apakah yang sedang kita cari?
Apakah yang sedang kita pikirkan?

Lautan luas di depanku nampak tenang dan lembut membelai pesisir. Tetapi bukankah dia pun menyimpan suatu kekuatan dashyat yang mampu meluluh-lantakkan kehidupan kita? Suatu saat, pada kesempatan yang sama sekali tak terpikirkan, gelombang dapat berubah dengan cepat, membumbung tinggi dan menyapu segenap mimpi dan harapan kita. Lalu semuanya akan musnah. Musnah diterpanya. Maka dimanakah harapan yang telah kita rencanakan sebelumnya? Dimanakah?

Demikianlah, alam seringkali mengajarkan kita bahwa, segala sesuatu yang kita harapkan dari materinya adalah suatu kesia-siaan. Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari materi saja. Sebab ada tertulis, Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Itulah kata Yesus kepada iblis yang sedang mencobaiNya. Ya, bersyukurlah kita karena hidup tidak hanya terdiri dari materi saja. Sebab jika demikian, jika saatnya tiba, kita pun akan terseret musnah ke dalam gelombang ketiadaan. Lalu semuanya menjadi hampa. Hampa.

Pada mulanya adalah Firman. Demikianlah dengan indahnya Santo Yohanes membuka Injilnya. Firman yang kini telah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, telah memberikan terangNya kepada segenap umat manusia. Dan hanya pada terang itulah kita dapat berjalan dengan lega dan aman. Tanpa khawatir tersesat. Karena Dialah jalan dan kehidupan. Dialah yang telah berkeliling sambil berbuat baik untuk kita semua. Dia yang telah berjalan dari abad ke abad, hingga hari ini, untuk membimbing kita. Untuk menyadarkan makna keberadaan kita di dunia yang fana ini. Agar semuanya tidak menjadi
hampa. Agar kehidupan tidak tersia-sia.

Seberkas cahaya nampak muncul dari kumpulan mendung. Seberkas cahaya muncul dari himpunan mendung yang menutup langit. Dan camar. Dan para pelari pagi. Dan aku. Dan alam. Semuanya nampak ceria menyambut terang yang perlahan menghangatkan tubuh ini. Ah, harapan tidak pernah mati jika kita bersandar pada semangatNya. Harapan tidak pernah sirna jika kita sanggup melepaskan diri dari segala impian kita pada batu-batu yang kita harapkan menjadi roti. Sebab kita semua dapat menuruti teladanNya. Manusia hidup bukan hanya dari roti saja. Maka di pagi yang mendung ini, aku mencari damaiku pada segala yang nampak hidup. Dan para pelari pagi itu pun tak terganggu oleh suasana langit yang muram karena mendung. Camar-camar tetap melayang kesana kemari. Harapan yang tak pernah sirna.

Sie Liturgie


Spaghetti with Salmon Cream Sauce

Porsi: 2 Orang

Bahan:
  • 200 gr Spaghetti
  • 200 gr Salmon (Bisa beli beku yang di aldi)
  • 1 buah Lemon (Parut kulitnya)
  • 200 gr Schlagsahne (Whipping Cream cair)
  • 1/2 buah Bawang Bombay ukuran sedang (potong kotak2 halus)
  • 1 ikat Dill (bisa menggunakan yang kering,cincang halus)
  • Minyak Oliv
  • 250 ml White Wein
  • Garam dan Lada sesuai selera


Cara Membuat:
  1. Potong salmon berbentuk dadu dan susun diatas piring. Taburi lada dan garam secukupnya dan parutan kulit lemon. Sirami salmon dengan 1/3 sari lemon dan diamkan dalam kulkas selama kurang lebih 15-30 menit.
  2. Rebus spaghetti sampai matang dan empuk ("Al Dente"). Tiriskan dan siram dengan air dingin agar tidak lengket.
  3. Panaskan minyak oliv diatas wajan lalu tumis bawang bombay sampai layu dan masukkan sedikit daun dill. Tuang Wein kewajan dan biarakan mendidih selama 3 menit. Tuangi sahne dan biarkan mendidih sebentar, lalu berikan sisa daun dill, lada dan garam. Rasakan.
  4. Kecilkan api dan masukkan salmon. Aduk rata, dan biarkan matang selama 2 menit (bila terlalu lama dan terlalu panas salmon mengeras). Angkat dari kompor.
  5. Campur spaghetti dengan saus dan sajikan diatas piring pasta. Hiasi dengan daun dill



oleh: Studio 250



Temu Bulanan II

Hiho....

Satu bulan tlah berlalu, ini saatnya bwat kita ngadain temu bulanan yg kedua. Acara kali ini bakal diadakan:

Tempat: HEK Musikraum
Hari/Tanggal: Sabtu, 8 Juli 2006
Waktu: 11.00-16.00
Acara: Renungan singkat dan Grillen bareng!!

Ayo2.. semuanya pada ikutan yakk, bikin acara ini biar rame.. Bwat Grillen, masing2 harus bawa daging yakk! kita gak menyediakan daging soalnya.. hehehe.. Kita cuma menyediakan Panggangan, Baguette/Pommes, serta minuman yang total pengeluarannya nanti bakal kita bagi rata.

Ajak temen2 yang laen yang mau ikut yakk! Acara ini terbuka untuk sapa ajah... Btw, klo mau ngajak temen kita yg muslim, harap diingatkan kalo pemanggang kita ini bekas minyak babi.. okeh????

See you on Saturday!
PK 06/07


Gemeinde Abend: 1003 Nächte

malam ini, di KHG...

18:15 - 18:45 : Andacht
18:45 - 20:45 : 1003 Malam "Die Welt erzählt von starken Frauen".
Dari Indonesia akan dibawakan oleh Anson.
21:00 - selesai : "Die Welt erzählt von starken Männern" d.h. Fussball Halbfinale, Deutschland - Italien.


Tujuh Kalimat Wasiat dari Atas Salib

Tujuh kalimat yang diucapkan Yesus di atas salib telah dijadikan topik menarik untuk direnungkan. Haydn telah menuangkannya dalam bentuk musik yang menawan atas permintaan gereja Katedral Cádiz. Di samping dalam bentuk musik ada banyak bentuk meditasi lain yang didasarkan pada kata akhir masa hidup Yesus ini. Mel Gibson membawa tak hanya peristiwa di atas salib, tetapi semua kisah sekitar penderitaan dan penyaliban Yesus itu ke layar lebar dalam Filem “The Passion of The Christ”. Mari kita juga mencoba merenungkan kalimat-kalimat wasiat tersebut terutama di masa prapaska ini.

Penderitaan dan kematian Yesus merupakan saat yang paling hikmat dalam sejarah manusia. Seorang Anak Allah dibunuh, seorang Anak Allah dikorbankan secara tak adil. Seorang yang paling disayangi, seorang yang selalu diikuti massa ketika masih menapaki dunia fana ini kini disalibkan. Dua ribu tahun sejak saat penyalibanNya kini telah berlalu, namun kitab Suci membantu kita untuk mampu melihat kejadian masa itu secara amat jelas.

Suatu sore di musim semi. Sebuah penghukuman kejam terjadi. Ditonton kerumunan massa. Yah saat itu menjelang hari pesta sehingga banyak orang berdatangan ke Yerusalem. Di sore itu bumi diguncang gempa yang dahsyat. Langit menjadi gelap karena sebuah gerhana yang melampaui kekuatan natural. Ada tiga salib terpancang di Golgotha. Di kiri kanannya adalah dua penjahat yang disalibkan karena kejahatan yang pernah mereka perbuat. Di tengahnya tergantung Anak manusia yang dihukum karena tak berdosa. Ia mati karena dosa yang dibuat umat manusia. Ia mati karena aku dan engkau.

Tujuh kalimat Ia tinggalkan dari atas salib sebagai bab penutup, bab terakhir buku kehidupanNya. Sebelum kegelapan mencekam bukit Golgotha, Yesus memberikan tiga kalimat. Tiga kalimat yang ditujukan bagi musuhNya, bagi temanNya, dan bagi sanak keluargaNya. Ketika sedang dilanda kegelapan gerhana, Ia memberikan satu kalimat, sebuah keluhan ketika ditinggalkan sendirian. Setelah kegelapan berakhir Ia memberikan tiga kalimat yang terakhir sebagai ungkapan kasihNya.

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Adalah hal yang biasa bagi mereka yang sedang disalibkan untuk berteriak dari atas salib. Namun kata-kata mereka penuh berisi ungkapan penderitaan dan permintaan untuk dibebaskan. Mereka akan mencaci maki serta membuang ludah kepada semua yang menonton kejadian tersebut. Kata-kata mereka adalah kata-kata pembalasan dendam yang tak dapat diungkapkan dengan tindakan nyata.

Namun Yesus yang tersalib, yang seluruh dagingnya kini telah tersobek, yang kini tergantung telanjang tanpa seutas benang melekat di tubuhNya. Yesus yang harus menhadapi suatu kematian yang teramat memalukan. Ia tidak berteriak mencaci-maki para penghukumNya. Ia tidak meminta agar Ia dibebaskan dari penghukuman itu. Sebaliknya, Ia berdoa bagi musuh-musuhNya, Ia berdoa bagi mereka yang telah mencabik tubuhNya. Ia berdoa bagi mereka yang telah menelanjangi diriNya dan yang mengangkat palu memaku tangan dan kakiNya di kayu salib. Ia berdoa bagi mereka yang melontarkan kata-kata hujatan terhadapnya. Ia berdoa bagi mereka yang kini membuang undi atas pakaianNya.

Yesus sesungguhnya memiliki kuasa untuk menjadikan bumi terbuka dan menelan semua musuhnya hidup-hidup. Namun di sini, di atas salib ini, di bab terakhir buku kehidupanNya, Ia justru melakukan apa yang telah diajarkanNya semasa hidupNya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:43-44). Pada kesempatan lain Ia mengajarkan para muridNya untuk memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali.

Yesus tahu bahwa memafkan orang lain adalah sesuatu yang tidak mudah. Karena itu di akhir hidupNya Ia mengingatkan kita sekali lagi betapa pentingnya memaafkan orang lain sebagai prasyarat utama agar kitapun diampuni. “Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”Ia melaksanakan apa yang pernah diajarkanNya. Ia memberikan kepada kita suatu teladan yang nyata.

Anda dan aku pasti memiliki seseorang yang menyakiti diri kita. Dapatkah anda berdoa bagi dia yang menyakitimu??Kita telah diampuni secara cuma-cuma, karena itu kitapun selayaknya mau mengampuni orang lain tanpa syarat.

2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23: 42-43).

Di kiri kanan Yesus tergantung juga dua penjahat. Keduanya dibuktikan bersalah menurut tata hukum mereka. Hukuman yang mereka terima adalah ganjaran yang setimpal atas apa yang telah mereka perbuat semasa hidup mereka. Tubuh mereka mengeluarkan darah, dan kepedihan merajai diri. Satu di antaranya tak mampu menahan diri dan bergabung dengan paduan suara para serdadu secara lantang mengeluarkan kata-kata hujatan; “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Namun penjahat yang lain kini dirundung rasa takut akan Allah justru di saat ketika ia mendekati pintu kematiannya. “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Ia lalu dengan penuh rendah hati berkata kepada Yesus; “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Penjahat ini mengakui diri sebagai seorang bersalah, dan inilah jalan menuju keselamatan.

Di hadapan Tuhan, setiap kita hendaknya secara rendah hati mengakui kelamahan kita, mengakui bahwa kita adalah makhluk yang tak sempurna. Kita bagaikan domba yang hilang yang membutuhkan sang gembala yang baik. Ketika sang penjahat mengakui kesalahannya, Yesus tidak mengadili dirinya, tetapi berkata penuh kasih; “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Yesus memberikan jaminan, bahwa Ia tak hanya mengingat penjahat tersebut, tetapi bahwa Ia akan membawanya serta menuju taman kebahagiaan di mana tak pernah ada lagi penderitaan, tak pernah ada lagi tangisan dan air mata. Oh…sungguh suatu rahmat yang teramat besar!!! Ia yang tak pantas untuk mendiami dunia ini dan karenanya harus digantung antara langit dan bumi, kini dijadikan pantas mendiami tanah kebahagiaan abadi. Dan ini hanya terjadi ketika sang penjahat itu mengakui diri sebagai pendosa, dan meletakan bebannya di atas pundak sang Anak Domba Allah yang kini tergantung di sampingnya.

3. “Ibu, inilah, anakmu! Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27)
Sungguh suatu kebahagiaan yang teramat besar untuk mengetahui bahwa di tengah kerumunan orang-orang yang menghujat dan menolak, ada juga orang yang memberikan dukungan. Ketika Yesus menundukan kepala, Ia melihat ibuNya berdiri di kaki salib itu. Di sampingnya berdiri murid kesayanganNya, Yohanes. Kelompok kecil ini telah secara berani menentang arus massa yang tak henti meneriakan kata-kata hujatan kepada Yesus. Kelompok kecil inilah justru merupakan penghiburan besar bagiNya, dan Yesus secara lantang berkata; “Ibu, inilah anakmu! Dan kepada Yohanes; Inilah ibumu!”

Betapa pedih hati sang ibu yang berdiri menonton adegan paling yang terjadi atas diri anak tunggalnya sendiri. Para murid Yesus telah melarikan diri. Teman-temanNya telah meninggalkanNya. Ia ditolak oleh bangsaNya sendiri. Dan para musuhnya secara lantang berteriak menuntut darahNya. IbuNya berdiri di kaki salibNya. Pedih..!! LukaNya mengucurkan darah segar. Namun ibuNya tak mampu mengusap darah yang kini bergulir jatuh. Kerongkongannya kering, namun tak ada setetes airpun yang mampu menyegarkannya. Sungguh duri-duri di kepala Yesuspun menusuk bathin ibuNya.

Kata-kata yang tertulis di atas batu di gunung Sinai kini berdengung keras; “Hormatilah ibu dan bapamu.” Adegan di kaki salib menjadi amat jelas menunjukan alasan mengapa kita harus menghormati orang tua kita. Sebilah pedang menembusi bathin orang tua kita mana kala kita anak-anak mereka dirundung nestapa.

4. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:45-46).
Yesus telah berdoa bagi para musuhNya, Ia menjanjikan kehidupan baru bagi penjahat di sampingNya, memberikan penghiburan bagi IbuNya. Setelah semuanya itu, adegan baru kini terjadi. Beberapa jam kini berlalu. Sejak jam dua belas hingga jam tiga sore kegelapan meliputi bumi. Semua yang menonton adegan penyalibanNya bergegas pulang menuju Yerusalem sebelum ditelan kegelapan. Dan di tengah kegelapan itu Yesus berteriak; “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Selama masa pelayananNya Yesus paham apa artinya ditinggalkan. Ia ditolak oleh orang-orangNya sendiri. Ia ditolak di tanah kelahiranNya sendiri. Ia ditolak oleh sanak keluargaNya sendiri. Namun dalam kesempatan-kesempatan seperti itu Ia masih tetap mempertahankan keintimanNya dengan bapaNya. Namun kali ini… Bahkan BapaNya seakan meninggalkanNya. Dalam Kitab Suci ada tertulis; “Mereka yang menjadi budak dosa akan mati.” Mereka yang menjadi budak budak dosa ditinggalkan Tuhan. Dan Yesus ditinggalkan BapaNya, justru karena dosa-dosa kita. Kita yang seharusnya menerima kematian telah ditebus dengan penderitaan di salib.

5. “Aku haus!” (Yoh 19;28).
Kegelapan kini berlalu. Matahari bersinar lagi. Namun di saat Yesus mendekati kematianNya, Ia dilanda kehausan yang hebat. Kematian dengan cara penyaliban merupakan suatu bentuk penyiksaan yang paling menyakitkan yang pernah dialami manusia. Darah yang bergulir jatuh menyebabkan kekurangan zat cair dalam tubuh. Seluruh tubuh berteriak meminta seteguk air. Kepahitan dan kepedihan lahiriah karena kehausan ini sungguh melampaui ungkapan kata-kata manusiawi.

Dapatkah anda melukiskan wajah Yesus di salib? Muka yang tak dikenal lagi karena berlumuran darah. Dan mampukah engkau mendengar tetesan darah yang mengalir jatuh dari tangan dan kakinya? Dapatkah engkau melihat aliran darah yang bergulir di sekujur tubuhNya? Di kaki salibNya, darah Yesus menumpuk tinggi. Tidak heran kalau mukanya bagaikan dibakar dan ia berteriak “Aku haus!” Yesus menderita karena diriku.

6. “Sudah selesai.” (Yoh 19:30).
Ketika Yesus berkata bahwa Ia haus, mereka yang berada di kaki salibNya memberikanNya anggur asam (cuka). Para serdadu seakan belum merasa puas menganiaya Yesus dengan cambuk dan rotan. Mereka belum puas dengan menelanjangi diri Yesus. Kini sebagai ganti memberikan air yang segar, Ia diberi cuka sehingga kerongkonganNya menjadi sungguh terbakar. Setelah meneguk ai asam itu Yesus berkata; “Sudah selesai.” Bab terakhir buku kehidupanNya kini ditutup secara asam.

Penderitaan maha dalam kini segera berakhir. Inilah tujuan hidupNya, yakni mengalahkan penderitaan kegelapan dan penderitaan akibat dosa. Kini Ia boleh membulatkan suara dan bersorak riang: “Sudah selesai.” Ia telah menyelesaikan segala hal yang pernah diramalkan para nabi dalam kitab Perjanjian Lama. Iapun telah menyelesaikan misi khusus yang diberikan BapaNya untuk menyelamatkan umat manusia. Terima kasih ya Yesusku!!

7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23;46).
Enam jam kini berlalu. Selama waktu tersebut tubuh Yesus tergantung kulai di atas salib. Kini nafas Yesus mulai tersentak. Sekujur tubuh bergetar keras, sampai akhirnya Ia menarik nafas panjang dan berseru; “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Sepanjang hidupNya Yesus selalau mempercayakan diriNya ke dalam tangan BapaNya. Kini di akhir hidupNya Iapun menyerahkan diri seutuhnya ke dalam tangan BapaNya. “Bapa, ke dalam tanganMu keserahkan nyawaku.”

Yesus telah mati untuk kita, untuk aku dan engkau. Namun kisah kita tidak berakhir di sini. Karena sesudah adegan Golgotha, ada peristiwa kebangkitan. Inilah misteri iman kita yang sering kita dengungkan. Tanpa kebangkitan, penderitaan dan kematian Yesus menjadi tak berarti. Ia mati untuk membawa suatu harapan baru.

Diambil dari Pondok Renungan
Sie Liturgie